image
Beranda
>
Berbelanja

Berbelanja

Inflasi

1) Konsep Dasar Inflasi

Inflasi menunjukkan persentase kenaikan harga sejumlah barang dan jasa secara umum yang dikonsumsi rumah tangga selama periode tertentu. Inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kenaikan harga barang dan jasa menurunkan nilai mata uang.

Mata, inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum. Boediono (2001) menjelaskan bahwa inflasi adalah kenaikan harga barang secara umum dan terus-menerus. Adapun Suseno, Siti Astiyah (2008), Samuelson dan Nordhaus (2010), Romer (2012), dan Mankiw, N. Gregory (2018) menjelaskan bahwa inflasi dimaknai sebagai kecenderungan meningkatnya harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus. Perhitungan inflasi di Indonesia dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan Classification Of Individual Consumption According to Purpose (COICOP) tahun dasar 2018. COICOP tahun dasar 2018 menjadi pijakan bagi BPS untuk menghitung Indeks Harga Konsumen (IHK).

Indeks ini mengukur rata-rata perubahan harga antar waktu dari suatu paket jenis barang dan jasa yang dikonsumsi oleh penduduk/rumah tangga di daerah perkotaan dengan dasar suatu periode tertentu. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Berikut ini paket barang dan jasa yang menjadi basis perhitungan di Indonesia berdasarkan COICOP tahun dasar 2018, dikelompokkan dalam 11 kelompok pengeluaran.

  • Makanan, minuman, dan tembakau.
  • Pakaian dan alas kaki.
  • Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.
  • Perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga.
  • Kesehatan.
  • Transportasi.
  • Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan.
  • Rekreasi, olahraga, dan budaya.
  • Pendidikan.
  • Penyediaan makanan dan minuman/restoran.
  • Perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Untuk mengetahui pergerakan harga dari sebelas kelompok pengeluaran tersebut, BPS melakukan survei harga konsumen. Survei harga konsumen merupakan survei yang dilakukan untuk mengetahui harga transaksi yang terjadi antara penjual (pedagang eceran) dan pembeli (konsumen). Selanjutnya, berdasarkan survei harga konsumen tersebut dihitung IHK. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Disamping pengelompokan berdasarkan COICOP di atas, BPS juga mempublikasikan inflasi berdasarkan pengelompokan lainnya yang dinamakan disagregasi inflasi. Ini dilakukan untuk menghasilkan indikator inflasi yang menggambarkan pengaruh faktor-faktor fundamental.

image

Jenis inflasi juga dapat dikelompokkan berdasarkan berbagai kategori sebagaimana tampak pada tabel di bawah ini.

image
image

Inflasi dapat disebabkan oleh adanya tekanan dari sisi penawaran (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi. Faktor-faktor terjadinya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara mitra dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price), dan terjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunya distribusi. Faktor penyebab demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya. Dalam konteks makro ekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total (aggregate demand) lebih besar daripada kapasitas perekonomian.

Adapun faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi lainnya dalam menggunakan ekspektasi angka inflasi ketika membuat keputusan melakukan kegiatan ekonomi. Ekspektasi inflasi tersebut dapat bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan harga pada tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari besar keagamaan (bulan Ramadan dan Lebaran, Hari Natal, dan Tahun Baru) dan penentuan Upah Minimum Provinsi (UMP). Meskipun ketersediaan barang secara umum diperkirakan mencukupi dalam mendukung kenaikan permintaan, namun harga barang dan jasa pada saat hari raya keagamaan meningkat lebih tinggi dari kondisi supply-demand tersebut. Demikian halnya pada saat penentuan UMP, pedagang ikut meningkatkan harga barang meski kenaikan upah tersebut tidak terlalu signifikan dalam meningkatkan permintaan.

2) Dampak Inflasi

Tingkat inflasi pada angka yang wajar dan stabil sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan nilai mata uang dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Namun inflasi yang tinggi atau bahkan hiperinflasi dapat menyebabkan penurunan nilai uang yang dapat berdampak negatif. Berikut ini beberapa dampak positif dan negatif inflasi terhadap perekonomian dan terhadap masyarakat.

Dampak Inflasi bagi Kegiatan Perekonomian
  • Dampak positif: Inflasi berdampak positif jika berada pada tingkat yang rendah, yakni masih berada dalam persentase tingkat bunga kredit yang berlaku. Misalnya pada saat tingkat bunga kredit adalah 10% per tahun dan tingkat inflasi 4%, hal ini akan mendorong kegiatan ekonomi sebab para pengusaha dapat memanfaatkan kenaikan harga untuk berinvestasi, memproduksi, serta menjual barang dan jasa.
  • Dampak negatif:
    • Mendorong penanaman modal spekulatif: Pemilik modal cenderung melakukan kegiatan spekulatif dibanding investasi produktif karena dianggap lebih menguntungkan.
    • Menimbulkan masalah pada neraca pembayaran: Menyebabkan harga barang impor menjadi lebih murah sehingga masyarakat lebih menyukai barang impor, mendorong defisit neraca pembayaran dan melemahkan nilai tukar Rupiah.
    • Mendorong tingkat bunga naik, investasi turun: Lembaga keuangan menaikkan suku bunga pinjaman untuk menghindari turunnya nilai uang dari modal yang dipinjamkan, sehingga mengurangi investasi produktif.
    • Menimbulkan ketidakpastian keadaan ekonomi di masa depan: Ketidakstabilan ekonomi makro mendorong konsumen menimbun barang dan menyulitkan produsen memperhitungkan biaya produksi.
Dampak Inflasi bagi Masyarakat
  • Menurunkan nilai riil tabungan dan pinjaman: Nilai tabungan riil masyarakat akan turun saat inflasi tinggi. Memegang uang tunai akan merugi karena nilainya terus merosot.
  • Memperlebar kesenjangan distribusi pendapatan: Harga aset seperti tanah, rumah, dan barang naik lebih cepat dari kenaikan upah, meningkatkan pendapatan riil pemilik aset/pengusaha namun menurunkan pendapatan riil masyarakat berpenghasilan rendah.

3) Peran Serta Masyarakat dalam Mengendalikan Inflasi

Masyarakat berperan penting dalam upaya pengendalian inflasi. Permintaan masyarakat yang tinggi terhadap suatu produk mendorong terjadinya kenaikan harga yang akan mengakibatkan tekanan inflasi, jika kenaikan harga tersebut terjadi secara terus menerus dan berdampak terhadap produk lainnya. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengendalikan inflasi adalah dengan menjadi konsumen yang bijak dalam berbelanja, antara lain dengan menghindari perilaku konsumtif berlebihan dan mengurangi pembelian produk-produk impor serta beralih kepada produk-produk dalam negeri. Selain itu, membiasakan diri menyusun perencanaan keuangan ketika akan berbelanja juga penting dan akan berdampak pada stabilitas inflasi. Oleh karena itu, literasi keuangan dan inklusi keuangan masyarakat harus terus ditingkatkan.